Tingkah Laku Ternak
Tingkah Laku Makan dan Minum
Mengenali tingkah laku ternak merupakan
kemampuan penting dalam peternakan dan kesehatan hewan. Hal ini berlaku baik
untuk orang yang berhadapan langsung dengan ternak maupun tidak. Apa alasannya?
Berikut beberapa manfaat yang diperoleh dari mengenali tingkah laku ternak:
1. Meningkatkan hubungan keterikatan
antara hewan peliharaan dengan pemiliknya.
2. Mempermudah perancangan berbagai
fasilitas (semacam kandang dan peralatan) agar sesuai dengan kebutuhan ternak.
3. Pemenuhan kebutuhan akan tingkah laku
tidak hanya akan meningkatkan produktivitas ternak namun juga memberikan jaminan
kesejahteraan bagi ternak.
4. Mempermudah penanganan dan perawatan
ternak untuk menghindari kondisi stress yang berlebihan.
Ada beragam tingkah laku ternak sebagai
ekspresi dalam menghadapi bermacam-macam kondisi lingkungan. Tingkah laku yang
diperlihatkan pun ternak berbeda-beda dan bersifat khas pada setiap ternak. Tingkah
laku ternak yang berkaitan langsung dengan hasil produksi peternakan dan
kesehatan hewan, diantaranya adalah tingkah laku makan dan minum (ingestif
behaviour). Hal ini penting karena ternak tidak bisa berproduksi dengan
baik, bahkan tidak bisa hidup tanpa makan dan minum.
Ayam makan dengan cara mematuk. Saat
baru menetas, ayam akan mematuk sembarang obyek, makanan dan bukan makanan.
Lama kelamaan dia mampu memilih yang seharusnya dia patuk, yaitu makanan.
Proses belajar mengenali makanan ini pada ayam sangat efektif dalam periode 30
jam setelah menetas. Ayam yang diasuh
oleh induknya lebih cepat belajar mengetahui makanan yang baik, karena melihat
contoh makanan dari induknya. Induk belajar dari pengalaman dan dicontohkan
pada anaknya. Pada peternakan ayam ras secara intensif, peranan ini tidak ada
karena induk digantikan oleh induk buatan (brooder) sebagai penghangat.
Ayam menunjukan pilihan pada bentuk,
warna dan rangsangan tertentu. Mematuk dan mencoker-coker adalah salah satu
tingkah laku yang umum dilakukan unggas saat memilih makanan. Tingkah laku ini
umum dilakukan pada unggas yang dipelihara dengan cara diumbar (pemeliharaan
secara ekstensif). Pada ayam yang dikandangkan secara intensif, tingkah laku
ini menjadi berkurang. Ayam menunjukan tingkah laku memilih makanan, dan
menunjukan kesukaan pada pada bentuk biji-bijian (pakan berbentuk crumble).
Pada saat memilih, penglihatan merupakan faktor yang sangat penting. Untuk
melatih anak ayam agar dapat mengenali makanannya, cara yang sering dipakai
adalah dengan memberi pencahayaan yang terang dan tempat makanan berwarna
terang.
Bila suatu waktu, makanan yang biasa diganti
dengan makanan yang tidak dikenal, mula-mula ayam tidak mau makan. Kemudian
ayam mencoba mematuk-matuk sedikit-sedikit dan akhirnya dimakan juga. Namun
demikian, jika makanan sering diganti, nafsu makan ayam menjadi terganggu
sehingga konsumsinya menurun dan berpengaruh pada produksi.
Indera pendengaran merupakan indra
terpenting kedua pada unggas. Anak ayam akan menghampiri tempat pakan bila
mendengar suara induk memanggilnya. Selain itu, suara ketukan pada waktu ayam
makan ternyata mampu meningkatkan nafsu makan ayam lain yang mendengarnya.
Demikian pula bila ayam melihat temannya makan, maka ia pun akan ikut makan
meskipun sudah kenyang. Di alam, ayam terbiasa mencari makan secara berkelompok
dan makan pada waktu yang sama.
Bagaimakah
dengan tingkah laku ayam saat minum? Apakah ayam perlu belajar minum untuk
memenuhi kebutuhan air minum? Pada dasarnya ayam tidak belajar minum, yang ada
adalah belajar mematuk. Pertama-tama, ayam belajar mematuk makanan yang
terapung di air. Selain itu, kilauan air juga menarik anak ayam untuk mematuk.
Dengan cara itulah anak ayam mengenali air minum. Ayam sangat membutuhkan air,
sehinggalebih tahan lapar daripada haus. Oleh karena itu, dalam waktu 24 jam
setelah menetas sebaiknya anak ayam diberi minum terlebih dahulu sebelum makan.
Ayam yang tingkat hirarki tinggi akan makan lebih dulu
Tingkah laku ternak saat mempertahankan
diri
Tipe tingkah laku ini meliputi
perkelahian, terbang dan reaksi-reaksi yang berhubungan dengan konflik.
Tingkah Bertarung (Agostik Behaviour)
1.
Meliputi
tingkah laku menyerang (attack), melarikan diri (escape), menghindar dari
bahaya (avoiding) dan kalah dalam bertarung (submissive).
2.
Tingkah
laku menyerang meliputi menyerang (fighting), memimpin kelompok (pecking) dan
mengancam (threatening).
3.
Bila
sekelompok ayam dimasukkan ke dalam kandang akan terjadi perkelahian, pemenang
berhak mematuk yang kalah (peck order).
4.
Betina
mempunyai dua peck order.
5.
Saling
mematuk dimulai pada umur 16 hari.
6.
Kelompok
yang berbeda umur jangan disatukan karena umur yang lebih tua akan dominan.
7.
Menjelang
disapih anak ayam satu induk akan berkelahi dan yang menang akan dominan,
prioritas dalam setiap kesempatan terutama makan sehingga pertumbuhan tidak
seragam.
8.
Tingkah
laku sosial disini mungkin biasa didefinisikan sebagai beberapa perilaku hewan
yang disebabkan atau dipengaruhi oleh hewan lainnya pada spesies yang sama atau
bisa juga tidak sama. Sedangkan organisasi sosial bisa diartikan kesatuan dari
individu-individu tersebut mengintegrasikan sendiri secara jujur dan baik dan
menjadikan kelompok tersendiri yang konsisten dan berdasarkan pada kebebasan
dari respon masing-masing individu tersebut terhadap yang lainnya.
Hubungan sosial ini dibedakan sebagai
berikut :
Pada ayam terdapat tingkatan sosial
atau kasta yang biasa disebut peck order. Bila tingkatan sosial ini telah
dicapai pada suatu kelompok, maka kandang itu akan menjadi tenang dan aman.
Beberapa faktor yang berpengaruh pada tingkatan sosial ayam ini adalah: umur,
pengalaman, ukuran dan berat, keagresifan
Hal ini berhubungan dengan perubahan
tingkah laku sosial dan kepadatan populasi yang mungkin berpengaruh pada
pertumbuhan, tampilan produksi, dan reproduksi dengan beberapa tipe rangsangan
dari lingkungan. Pada ayam banyak yang menyebabkan stress misalnya karena panas
atau dingin, kekurangan makanan dan air, banyaknya populasi, kekurangan ruang
gerak, penyakit dan kompetisi sosial.
Ayam yang dipelihara pada kandang
secara bergerombol (flocks) dengan jelas terdapat perbedaan hubungan
sosial diantaranya. Beberapa penelitian menunjukkan karakteristik tingkah laku
dari ayam tersebut. Salah satu tingkah laku sosial tersebut adalah peck
order atau tingkatan sosial dalam kelompok ayam yang sejenis dimana yang
kuat mendominir yang lemah.
Peck
order terlihat dengan tampaknya sebagian kecil dari ayam yang
bergerombol menyendiri pada sisi kandang. Jika terjadi persaingan diantara
kelompok ayam, maka ayam yang memiliki tingkatan sosial lebih rendah akan
menghindar dari ayam yang mempunyai tingkatan sosial lebih tinggi, sehingga
terjadi pengelompokan ayam antara tingkatan sosial pemenang dan yang kalah.
Begitu juga pada ayam jantan yang ditempatkan pada komunitas yang baru, jika
tidak bisa memenangkan persaingan sosial di dalamnya, ayam itu bisa mengalami
kematian. Pada tingkah laku pakan, ayam yang mempunyai tingkatan sosial lebih
tinggi akan mempunyai kesempatan lebih dahulu menikmati pakan dibanding dengan
yang tingkatan sosial lebih rendah. Ayam jantan akan lebih banyak mengkonsumsi
pakan dibanding dengan ayam betina, karena tingkatan sosialnya lebih tinggi
dibanding betina.
Tingkah laku ternak sehat
Ternak memang tidak bisa berbicara
lisan pada manusia mengenai. Namun, tingkah laku dan gerak-gerik ternak bisa
mengatakan sesuatu tentang keadaan dirinya. Tingkah laku ternak dapat
mencerminkan keadaan atau status kesehatannya.
Mari
kita perhatikan gambar berikut:

Gambar 18. Ternak sakit Gambar Gambar 19. Ternak
Sehat
Dapatkah
Anda membedakan tingkah laku keduanya? Bagaimakah tingkah laku ternak sehat?
berikut diuraikan beberapa tanda-tanda tingkah laku ternak yang sehat:
1. Daya Gerak (locomotion).
Daya gerak bisa dilihat pada ternak
sehat semenjak lahir. Daya gerak memiliki peran penting bagi kehidupan ternak
dalam mancari makan dan air. Banyaknya gerak atau aktivitas ternak dapat
menjadi salah satu indikator kesehatan ternak. Apabila ternak banyak bergerak,
kondisi ternak dapat dianggap sehat, sedangkan ternak yang cenderung diam dan
kurang agresif merupakan ciri ternak yang kurang sehat.
Perilaku ternak sehat dapat dilihat
dari aktivitas yang kuat, merespon jika dipegang, disentuh, ditarik. Keserasian
bentuk tubuh akan mempengaruhi gerak, yang tampak dari posisi tubuh yang tegak,
kuat dan semua bagian tubuh didukung dengan baik oleh kaki yang lurus, kuat
serta simetris baik kaki depan dan kaki belakang. Berdiri tegak, berjalan
normal.
2. Nafsu makan.
Ternak yang memiliki nafsu makan yang
baik adalah salah satu ciri ternak yang sehat, karena gejala awal ternak yang
sakit adalah penurunan nafsu makan.
3. Sikap berdiri
Sikap berdiri menggambarkan
keseimbangan dan posisi tubuh yang simetris. Dari berbagai sisi sikap berdiri
ternak yang sehat harus seimbang dengan posisi tubuh yang harmonis. Keserasian
bentuk tubuh tampak dari posisi tubuh yang tegak, kuat dan semua bagian tubuh
didukung dengan baik oleh kaki yang lurus, kuat serta simetris baik kaki depan
dan kaki belakang. Sikap berdiri ini dengan jelas menunjukkan keadaan tubuh
ternak yang simetris, harmonis, padat dan berdiri sesuai dengan posisi yang
dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.
4. Mata.
Ternak sehat memiliki sorot matanya
bersih dan cerah, kondisi bola mata baik, bersih dan tidak terdapat
kelainan-kelainan mata, seperti berair, bercak kemerahan pada kornea mata,
adanya selaput putih seperti katarak, ataupun adanya kotoran dan luka di sudut
mata. Pada ternak sehat, pupil mata akan bereaksi jika ada pergerakan atau
cahaya di depannya.
5. Rambut/bulu dan Kulit.
Ternak yang sehat memiliki rambut/bulu
yang tidak kusut, halus, bersih, tidak kusam, dan mengkilap. Kulit ternak
elastis dan tidak ada luka fisik/cacat. Secara normal, rambut ternak memang
rontok ketika ditarik, tetapi jumlahnya tidak banyak. Kerontokan bulu dalam
jumlah banyak dapat menjadi ciri hewan yang kurang sehat, juga pada ternak yang
mengalami penandukkan atau terbentuk kerak di kulit. Yang juga perlu
diperhatikan adalah turgor yang baik pada kulit ternak, yaitu ketika disentuh
atau ditarik kulit ternak sangat kenyal, dan posisi kulit akan kembali ke
keadaan yang semula (normal) dalam waktu yang relatif singkat.
6. Membran Mukosa.
Mukosa hidung dan mata tampat tidak
berbau, halus, mengkilat dan tidak pucat. Cermin hidung sapi yang sehat selalu
tampak basah.
7. Feces normal.
8. Jengger berwarna cerah dan lembut.
9. Pertumbuhan/produksi normal.
10. Suhu tubuh dan frekuensi bernafas
normal.
Tingkah Laku Ternak Sakit
Pengertian umum tentang ternak sakit
adalah setiap penyimpangan dari kondisi normalnya. Dalam arti yang lebih
spesifik, ternak sakit adalah suatu kondisi yang ditimbulkan oleh sutu individu
hidup atau oleh penyebab lainnya, baik yang diketahui maupun tidak, yang
merugikan ternak yang bersangkutan. Dari pengertian ini, maka ternak yang sakit
dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor mekanis, termis,
kekurangan nutrisi, pengaruh zat kimia, faktor keturunan dan lain sebagainya.
Secara umum, ternak yang sakit
mempunyai gejala-gejala umum seperti berikut ini :
1.
tidak
ada atau kurangnya nafsu makan.
2.
Depresi.
3.
Lesu.
4.
Mata
tidak bersinar.
5.
Kulit
pucat.
6.
Bulu
kusut/kusam atau tidak mengkilat.
7.
Perubahan
suhu tubuh.
8.
Kadang-kadang
disertai dengan peradangan.
9.
Tanda-tanda
penyakit khusus seperti batuk, keluarnya ingus, bengkak, berak encer, perut
kembung, kencing keruh, nampak menderita nyeri dsb.
10.
Jengger
tidak merah merona, pucat, hidung berair, terkadang pilek dan mata kering,
sedikit sayup, serta mulut mengaga atau sering ngorok.
11.
Kepala
adalah bagian tubuh ayam yang paling sering diamati. Pada ayam yang sakit maka
kepala dimasukkan di bawah sayap.
12.
Bulu
mengemang, dan terlihat bundar.
13.
Pada
kaki ayam sedikit dilipat dan tidak tegak. Akibatnya ayam sedikit lebih pendek
dari ayam lainnya yang sehat.
14.
Pada
bagian perut sangat kencang bahkan halus. Ini diakibatkan ayam banyak
mengkonsumsi air.
15.
Ayam
yang sakit kotorannya lebih encer (mencret) sedang berwarna hijau, merah,
kuning, cokelat, dan putih.
16.
Pada
kloaka atau saluran pembuangan terjadi penumpukan feses atau kotoran pada ayam.
Ini disebabkan saluran pencernaan yang terganggu.
17.
Saat
berdiri ayam tidak berdiri secara tegak namun sedikit membungkuk dan kaki tidak
lurus.
18.
Nafas
terengah-engah dan mulut dibuka. Terdengar suara saat bernafas (biasanya
terdengar jelas pada malam hari) dan kadang bersin saat makan.
19.
Tingkat
pertumbuhan/produksi terhenti atau menurun.
Sumber:
Juariah, Elis. 2013. Dasar Dasar Peternakan. Buku Teks Bahan Ajar Siswa. Direktorat
Pembinaan SMK. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Halaman 86 s.d 95
