Selasa, 24 Januari 2017

Tingkah Laku Ternak

Tingkah Laku Ternak

Tingkah Laku Makan dan Minum
Mengenali tingkah laku ternak merupakan kemampuan penting dalam peternakan dan kesehatan hewan. Hal ini berlaku baik untuk orang yang berhadapan langsung dengan ternak maupun tidak. Apa alasannya? Berikut beberapa manfaat yang diperoleh dari mengenali tingkah laku ternak:
1.       Meningkatkan hubungan keterikatan antara hewan peliharaan dengan pemiliknya.
2.      Mempermudah perancangan berbagai fasilitas (semacam kandang dan peralatan) agar sesuai dengan kebutuhan ternak.
3.      Pemenuhan kebutuhan akan tingkah laku tidak hanya akan meningkatkan produktivitas ternak namun juga memberikan jaminan kesejahteraan bagi ternak.
4.      Mempermudah penanganan dan perawatan ternak untuk menghindari kondisi stress yang berlebihan.

Ada beragam tingkah laku ternak sebagai ekspresi dalam menghadapi bermacam-macam kondisi lingkungan. Tingkah laku yang diperlihatkan pun ternak berbeda-beda dan bersifat khas pada setiap ternak. Tingkah laku ternak yang berkaitan langsung dengan hasil produksi peternakan dan kesehatan hewan, diantaranya adalah tingkah laku makan dan minum (ingestif behaviour). Hal ini penting karena ternak tidak bisa berproduksi dengan baik, bahkan tidak bisa hidup tanpa makan dan minum.
Ayam makan dengan cara mematuk. Saat baru menetas, ayam akan mematuk sembarang obyek, makanan dan bukan makanan. Lama kelamaan dia mampu memilih yang seharusnya dia patuk, yaitu makanan. Proses belajar mengenali makanan ini pada ayam sangat efektif dalam periode 30 jam setelah menetas.  Ayam yang diasuh oleh induknya lebih cepat belajar mengetahui makanan yang baik, karena melihat contoh makanan dari induknya. Induk belajar dari pengalaman dan dicontohkan pada anaknya. Pada peternakan ayam ras secara intensif, peranan ini tidak ada karena induk digantikan oleh induk buatan (brooder) sebagai penghangat.
Ayam menunjukan pilihan pada bentuk, warna dan rangsangan tertentu. Mematuk dan mencoker-coker adalah salah satu tingkah laku yang umum dilakukan unggas saat memilih makanan. Tingkah laku ini umum dilakukan pada unggas yang dipelihara dengan cara diumbar (pemeliharaan secara ekstensif). Pada ayam yang dikandangkan secara intensif, tingkah laku ini menjadi berkurang. Ayam menunjukan tingkah laku memilih makanan, dan menunjukan kesukaan pada pada bentuk biji-bijian (pakan berbentuk crumble). Pada saat memilih, penglihatan merupakan faktor yang sangat penting. Untuk melatih anak ayam agar dapat mengenali makanannya, cara yang sering dipakai adalah dengan memberi pencahayaan yang terang dan tempat makanan berwarna terang.
Bila suatu waktu, makanan yang biasa diganti dengan makanan yang tidak dikenal, mula-mula ayam tidak mau makan. Kemudian ayam mencoba mematuk-matuk sedikit-sedikit dan akhirnya dimakan juga. Namun demikian, jika makanan sering diganti, nafsu makan ayam menjadi terganggu sehingga konsumsinya menurun dan berpengaruh pada produksi.
Indera pendengaran merupakan indra terpenting kedua pada unggas. Anak ayam akan menghampiri tempat pakan bila mendengar suara induk memanggilnya. Selain itu, suara ketukan pada waktu ayam makan ternyata mampu meningkatkan nafsu makan ayam lain yang mendengarnya. Demikian pula bila ayam melihat temannya makan, maka ia pun akan ikut makan meskipun sudah kenyang. Di alam, ayam terbiasa mencari makan secara berkelompok dan makan pada waktu yang sama.
Bagaimakah dengan tingkah laku ayam saat minum? Apakah ayam perlu belajar minum untuk memenuhi kebutuhan air minum? Pada dasarnya ayam tidak belajar minum, yang ada adalah belajar mematuk. Pertama-tama, ayam belajar mematuk makanan yang terapung di air. Selain itu, kilauan air juga menarik anak ayam untuk mematuk. Dengan cara itulah anak ayam mengenali air minum. Ayam sangat membutuhkan air, sehinggalebih tahan lapar daripada haus. Oleh karena itu, dalam waktu 24 jam setelah menetas sebaiknya anak ayam diberi minum terlebih dahulu sebelum makan. Ayam yang tingkat hirarki tinggi akan makan lebih dulu
Tingkah laku ternak saat mempertahankan diri
Tipe tingkah laku ini meliputi perkelahian, terbang dan reaksi-reaksi yang berhubungan dengan konflik.
Tingkah Bertarung (Agostik Behaviour)
1.       Meliputi tingkah laku menyerang (attack), melarikan diri (escape), menghindar dari bahaya (avoiding) dan kalah dalam bertarung (submissive).
2.      Tingkah laku menyerang meliputi menyerang (fighting), memimpin kelompok (pecking) dan mengancam (threatening).
3.      Bila sekelompok ayam dimasukkan ke dalam kandang akan terjadi perkelahian, pemenang berhak mematuk yang kalah (peck order).
4.      Betina mempunyai dua peck order.
5.      Saling mematuk dimulai pada umur 16 hari.
6.      Kelompok yang berbeda umur jangan disatukan karena umur yang lebih tua akan dominan.
7.      Menjelang disapih anak ayam satu induk akan berkelahi dan yang menang akan dominan, prioritas dalam setiap kesempatan terutama makan sehingga pertumbuhan tidak seragam.
8.      Tingkah laku sosial disini mungkin biasa didefinisikan sebagai beberapa perilaku hewan yang disebabkan atau dipengaruhi oleh hewan lainnya pada spesies yang sama atau bisa juga tidak sama. Sedangkan organisasi sosial bisa diartikan kesatuan dari individu-individu tersebut mengintegrasikan sendiri secara jujur dan baik dan menjadikan kelompok tersendiri yang konsisten dan berdasarkan pada kebebasan dari respon masing-masing individu tersebut terhadap yang lainnya.

Hubungan sosial ini dibedakan sebagai berikut :
Pada ayam terdapat tingkatan sosial atau kasta yang biasa disebut peck order. Bila tingkatan sosial ini telah dicapai pada suatu kelompok, maka kandang itu akan menjadi tenang dan aman. Beberapa faktor yang berpengaruh pada tingkatan sosial ayam ini adalah: umur, pengalaman, ukuran dan berat, keagresifan
Hal ini berhubungan dengan perubahan tingkah laku sosial dan kepadatan populasi yang mungkin berpengaruh pada pertumbuhan, tampilan produksi, dan reproduksi dengan beberapa tipe rangsangan dari lingkungan. Pada ayam banyak yang menyebabkan stress misalnya karena panas atau dingin, kekurangan makanan dan air, banyaknya populasi, kekurangan ruang gerak, penyakit dan kompetisi sosial.
Ayam yang dipelihara pada kandang secara bergerombol (flocks) dengan jelas terdapat perbedaan hubungan sosial diantaranya. Beberapa penelitian menunjukkan karakteristik tingkah laku dari ayam tersebut. Salah satu tingkah laku sosial tersebut adalah peck order atau tingkatan sosial dalam kelompok ayam yang sejenis dimana yang kuat mendominir yang lemah.
Peck order terlihat dengan tampaknya sebagian kecil dari ayam yang bergerombol menyendiri pada sisi kandang. Jika terjadi persaingan diantara kelompok ayam, maka ayam yang memiliki tingkatan sosial lebih rendah akan menghindar dari ayam yang mempunyai tingkatan sosial lebih tinggi, sehingga terjadi pengelompokan ayam antara tingkatan sosial pemenang dan yang kalah. Begitu juga pada ayam jantan yang ditempatkan pada komunitas yang baru, jika tidak bisa memenangkan persaingan sosial di dalamnya, ayam itu bisa mengalami kematian. Pada tingkah laku pakan, ayam yang mempunyai tingkatan sosial lebih tinggi akan mempunyai kesempatan lebih dahulu menikmati pakan dibanding dengan yang tingkatan sosial lebih rendah. Ayam jantan akan lebih banyak mengkonsumsi pakan dibanding dengan ayam betina, karena tingkatan sosialnya lebih tinggi dibanding betina.
Tingkah laku ternak sehat
Ternak memang tidak bisa berbicara lisan pada manusia mengenai. Namun, tingkah laku dan gerak-gerik ternak bisa mengatakan sesuatu tentang keadaan dirinya. Tingkah laku ternak dapat mencerminkan keadaan atau status kesehatannya.

Mari kita perhatikan gambar berikut:
Gambar 18. Ternak sakit Gambar                           Gambar 19. Ternak Sehat

Dapatkah Anda membedakan tingkah laku keduanya? Bagaimakah tingkah laku ternak sehat? berikut diuraikan beberapa tanda-tanda tingkah laku ternak yang sehat:
1.       Daya Gerak (locomotion).
Daya gerak bisa dilihat pada ternak sehat semenjak lahir. Daya gerak memiliki peran penting bagi kehidupan ternak dalam mancari makan dan air. Banyaknya gerak atau aktivitas ternak dapat menjadi salah satu indikator kesehatan ternak. Apabila ternak banyak bergerak, kondisi ternak dapat dianggap sehat, sedangkan ternak yang cenderung diam dan kurang agresif merupakan ciri ternak yang kurang sehat.
Perilaku ternak sehat dapat dilihat dari aktivitas yang kuat, merespon jika dipegang, disentuh, ditarik. Keserasian bentuk tubuh akan mempengaruhi gerak, yang tampak dari posisi tubuh yang tegak, kuat dan semua bagian tubuh didukung dengan baik oleh kaki yang lurus, kuat serta simetris baik kaki depan dan kaki belakang. Berdiri tegak, berjalan normal.

2.      Nafsu makan.
Ternak yang memiliki nafsu makan yang baik adalah salah satu ciri ternak yang sehat, karena gejala awal ternak yang sakit adalah penurunan nafsu makan.

3.      Sikap berdiri
Sikap berdiri menggambarkan keseimbangan dan posisi tubuh yang simetris. Dari berbagai sisi sikap berdiri ternak yang sehat harus seimbang dengan posisi tubuh yang harmonis. Keserasian bentuk tubuh tampak dari posisi tubuh yang tegak, kuat dan semua bagian tubuh didukung dengan baik oleh kaki yang lurus, kuat serta simetris baik kaki depan dan kaki belakang. Sikap berdiri ini dengan jelas menunjukkan keadaan tubuh ternak yang simetris, harmonis, padat dan berdiri sesuai dengan posisi yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

4.      Mata.
Ternak sehat memiliki sorot matanya bersih dan cerah, kondisi bola mata baik, bersih dan tidak terdapat kelainan-kelainan mata, seperti berair, bercak kemerahan pada kornea mata, adanya selaput putih seperti katarak, ataupun adanya kotoran dan luka di sudut mata. Pada ternak sehat, pupil mata akan bereaksi jika ada pergerakan atau cahaya di depannya.

5.      Rambut/bulu dan Kulit.
Ternak yang sehat memiliki rambut/bulu yang tidak kusut, halus, bersih, tidak kusam, dan mengkilap. Kulit ternak elastis dan tidak ada luka fisik/cacat. Secara normal, rambut ternak memang rontok ketika ditarik, tetapi jumlahnya tidak banyak. Kerontokan bulu dalam jumlah banyak dapat menjadi ciri hewan yang kurang sehat, juga pada ternak yang mengalami penandukkan atau terbentuk kerak di kulit. Yang juga perlu diperhatikan adalah turgor yang baik pada kulit ternak, yaitu ketika disentuh atau ditarik kulit ternak sangat kenyal, dan posisi kulit akan kembali ke keadaan yang semula (normal) dalam waktu yang relatif singkat.

6.      Membran Mukosa.
Mukosa hidung dan mata tampat tidak berbau, halus, mengkilat dan tidak pucat. Cermin hidung sapi yang sehat selalu tampak basah.
7.      Feces normal.
8.      Jengger berwarna cerah dan lembut.
9.      Pertumbuhan/produksi normal.
10.   Suhu tubuh dan frekuensi bernafas normal.

Tingkah Laku Ternak Sakit
Pengertian umum tentang ternak sakit adalah setiap penyimpangan dari kondisi normalnya. Dalam arti yang lebih spesifik, ternak sakit adalah suatu kondisi yang ditimbulkan oleh sutu individu hidup atau oleh penyebab lainnya, baik yang diketahui maupun tidak, yang merugikan ternak yang bersangkutan. Dari pengertian ini, maka ternak yang sakit dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor mekanis, termis, kekurangan nutrisi, pengaruh zat kimia, faktor keturunan dan lain sebagainya.
Secara umum, ternak yang sakit mempunyai gejala-gejala umum seperti berikut ini :
1.       tidak ada atau kurangnya nafsu makan.
2.      Depresi.
3.      Lesu.
4.      Mata tidak bersinar.
5.      Kulit pucat.
6.      Bulu kusut/kusam atau tidak mengkilat.
7.      Perubahan suhu tubuh.
8.      Kadang-kadang disertai dengan peradangan.
9.      Tanda-tanda penyakit khusus seperti batuk, keluarnya ingus, bengkak, berak encer, perut kembung, kencing keruh, nampak menderita nyeri dsb.
10.   Jengger tidak merah merona, pucat, hidung berair, terkadang pilek dan mata kering, sedikit sayup, serta mulut mengaga atau sering ngorok.
11.    Kepala adalah bagian tubuh ayam yang paling sering diamati. Pada ayam yang sakit maka kepala dimasukkan di bawah sayap.
12.   Bulu mengemang, dan terlihat bundar.
13.   Pada kaki ayam sedikit dilipat dan tidak tegak. Akibatnya ayam sedikit lebih pendek dari ayam lainnya yang sehat.
14.   Pada bagian perut sangat kencang bahkan halus. Ini diakibatkan ayam banyak mengkonsumsi air.
15.   Ayam yang sakit kotorannya lebih encer (mencret) sedang berwarna hijau, merah, kuning, cokelat, dan putih.
16.   Pada kloaka atau saluran pembuangan terjadi penumpukan feses atau kotoran pada ayam. Ini disebabkan saluran pencernaan yang terganggu.
17.   Saat berdiri ayam tidak berdiri secara tegak namun sedikit membungkuk dan kaki tidak lurus.
18.   Nafas terengah-engah dan mulut dibuka. Terdengar suara saat bernafas (biasanya terdengar jelas pada malam hari) dan kadang bersin saat makan.
19.   Tingkat pertumbuhan/produksi terhenti atau menurun.

Sumber:
Juariah, Elis. 2013. Dasar Dasar Peternakan. Buku Teks Bahan Ajar Siswa. Direktorat Pembinaan SMK. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Halaman 86 s.d 95


Tidak ada komentar:

Posting Komentar