Prospek bisnis peternakan di Indonesia
Gambar 14. Bidang Usaha Peternakan
Bila kita melihat peternakan dari sudut
pandang agribisnis, banyak sekali bidang-bidang bisnis yang berhubungan dengan
peternakan, antara lain:
1.
Sektor
Hulu
a.
Feed
mill : perusahaan pakan.
b.
Breeding
farm : perusahaan pembibitan.
c.
Perusahaan
vaksin dan obat hewan.
d.
Perusahaan
peralatan peternakan
2.
Sektor
Farm
a.
Peternakan
ayam pedaging.
b.
Peternakan
ayam petelur.
c.
Penggemukan
sapi pedaging.
d.
Penggemukan
domba/kambing pedaging.
e.
Peternakan
sapi perah.
f.
Peternakan
kambing perah.
3.
Sektor
hilir
a.
Usaha
pengolahan hasil peternakan : Nugget, sosis, Ice cream, Yourghet.
b.
RPA
: Industri pemotongan ayam.
c.
RPH
: Industri pemotongan hewan
Bagaimanakah prospek usaha tersebut
untuk masa yang akan datang? Marilah kita melihat prospek peternakan di
Indonesia dari berbagai sisi, yaitu dari faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan usaha bidang peternakan.
a.
Pertumbuhan
penduduk
Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk
Indonesia terus mengalami peningkatan. Jumlah penduduk yang banyak dapat
menjadi modal yang berarti bagi perkembangan peternakan. Setiap orang yang
dilahirkan akan membutuhkan sektor peternakan. Dengan kata lain, semakin banyak
jumlah penduduk maka akan semakin banyak pula jumlah orang yang membutuhkan
peternakan. Peningkatan jumlah penduduk merupakan pasar potensial bagi
pemasaran beragam jenis hasil peternakan.
Dilihat dari sisi kebutuhan, masyarakat
Indonesia masih membutuhkan produk peternakan terutama sebagai sumber pangan
protein hewani. Memang, masyarakat dewasa di perkotaan besar banyak yang
mengalami kelebihan konsumsi protein hewani. Namun demikian, apabila
dirata-ratakan untuk keseluruhan penduduk, banyak penduduk yang yang
mengkonsumsi protein hewani dalam jumlah dibawah standar. Berdasarkan data
statistik tahun 2006 konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia baru bisa
terpenuhi sebesar 5,34 g/kapita/hari. Sementara itu, FAO (Food Assosiation
Organization) menetapkan standar konsumsi protein hewani bangsa Indonesia
minimal sebesar 6 gr/ kapita/hari. Hal ini merupakan peluang bagi usaha
peternakan untuk berkembang dan meningkatkan produksi.
Selain itu, dengan jumlah penduduk yang
besar, Indonesia dikenal sebagai sumber tenaga kerja yang melimpah. Banyak
diantara tenaga kerja itu tidak mendapat lapangan pekerjaan di dalam negeri,
sehingga harus berusaha mendapatkannya di luar negeri. Sisi baiknya, jumlah
tenaga kerja yang melimpah memungkinkan usaha peternakan di dalam negeri untuk
mendapatkan tenaga kerja dengan leluasa. Kadang-kadang, jumlah tenaga melimpah
membuat upah tenaga kerja menjadi murah, sehingga menekan biaya produksi
peternakan di dalam negeri.
Penduduk juga merupakan sumber inventor
dan inovator. Semakin banyak jumlah penduduk, akan semakin banyak
pula dilahirkan ahli-ahli, baik peneliti maupun wirausahawan yang akan bergerak
memajukan peternakan.
b.
Tingkat
pendapatan
Produk pangan hasil peternakan, atau
pangan hewani mempunyai harga relatif lebih mahal dibandingkan dengan pangan
nabati. Dengan demikian, di sebagian masyarakat luas, tingkat pendapatan turut
berpengaruh terhadap permintaan produk peternakan. Saat ini, seiring
pembangunan yang dilaksanakan, semakin meningkatnya jumlah pendapatan penduduk
Indonesia, turut meningkatkan permintaan terhadap beragam jenis hasil
peternakan. Dengan demikian, terdapat korelasi positif yang tinggi antara
pendapatan penduduk per kapita dengan jumlah konsumsi produk peternakan.
c.
Tingkat
pendidikan
Pendidikan, pengetahuan dan kesadaran
masyarakat akan pentingnya protein hewani bagi pertumbuhan dan kecerdasan
generasi muda di masa yang akan datang turut mendorong permintaan dan laju
perkembangan usaha peternakan.
d.
Kebijakan
pemerintah
Pemerintah mendorong laju perkembangan
bisnis peternakan dalam negeri, antara lain dengan menekankan pentingnya
ketersediaan pangan yang cukup setiap waktu, aman, bermutu, bergizi, dan
beragam dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat yang diutamakan
berasal dari kemampuan sektor pertanian domestik dalam menyediakan bahan
makanan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini tersirat dalam UU No.7/1996
tentang Pangan dan PP No.68/2002 tentang Ketahanan Pangan
e.
Sumber
daya alam
Berdasarkan ketersediaan sumber daya,
ayam ras adalah ternak unggas yang sudah siap memenuhi permintaan konsumen.
Indonesia memiliki industri pembibitan ayam ras 109 buah dengan kapasitas
produksi 600 juta ekor DOC stok final per tahun. Selain itu, juga terdapat 60
buah industri pakan ternak dengan kapasitas produksi 5 juta ton per tahun.
Kemudian industri obat ternak sekitar 34 buah yang mampu memproduksi kebutuhan
pharmasetik, biologik dan premix.
Industri pakan juga masih memungkinkan
untuk ditingkatkan. Indonesia masih memiliki ruang gerak untuk pengembangan
produksi jagung dan kedele yang cukup luas. Mempercepat pengembangan jagung dan
kedele di Indonesia ke depan akan memperbesar prospek usaha peternakan ayam
ras. Langkah mengurangi ketergantungan bahan baku pakan terhadap produk impor
dapat menurunkan biaya produksi, sehingga mampu meningkatkan skala usaha yang
optimal.
f.
Sumber
daya pendukung
Dalam bidang pencegahan penyakit, Badan
Litbang Pertanian telah berhasil membuat inovasi berupa vaksin lokal. Hasil ini
merupakan salah satu prospek pasar baru yang dapat dikembangkan, mengingat
vaksin tersebut telah dikembangkan sesuai dengan virus lapangan di Indonesia.
g.
Faktor
penghambat
Faktor yang masih menjadi kendala di
lapang diantaranya adalah permasalahan keamanan, sistim perbankan, serta tata
ruang yang masih belum jelas sering menjadi penghambat dalam mengembangkan
usaha peternakan unggas. Infrastruktur yang kurang memadai seperti tersedianya
jalan yang memadai, kelayakan pelabuhan, maupun ketersediaan air juga dapat
menciptakan permasalahan yang rumit bagi peternak disamping permasalahan
ekonomi biaya tinggi akibat berbagai pungutan:
a) Masih rendahnya kepercayaan lembaga
keuangan /investor untuk menyediakan pembiayaan dalam usaha peternakan.
b) Sarana dan prasarana usaha belum
memadai, transportasi: jalan, pelabuhan, sumber energi: listrik, air,
informasi, pasar, harga.
c) Terbatasnya jangkauan pasar.
d) Rendahnya produktivitas, efisiensi dan
daya saing.
e) Keamanan (law enforcement) belum
sepenuhnya.
Indonesia memiliki garis pantai terpanjang ke-2 di dunia +
keterbatasan aparat-perdagangan ilegal/penyelundupan (misal: telur).
g) Skala usaha kecil/rendah.
h) Rendahnya Produktivitas,Efisiensi.
i) Daya saing.
j) Masih terbatasnya kemampuan sumber daya
manusia dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan teknologi.
Sumber:
Juariah,
Elis. 2013. Dasar Dasar Peternakan. Buku Teks Bahan Ajar Siswa. Direktorat Pembinaan SMK.
Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.halaman 46 s.d 51
Tidak ada komentar:
Posting Komentar